Dari Tanah Nikel Kolaka, Energi Menyalakan Harapan Indonesia Berdaya

Kabid Koperasi dan UKM Kabupaten Kolaka, Suyanti Suaib, saat menjelaskan upaya pemberdayaan pelaku UMKM di Kabupaten Kolaka.

Upaya penguatan infrastruktur dan penjajakan sumber energi tersebut menjadi bagian dari langkah untuk menjawab kebutuhan listrik yang terus berkembang. Namun, manfaat pembangunan kelistrikan juga perlu dirasakan oleh masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil yang menjalankan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan industri.

Di Kolaka, Andi Rudi menjalankan usaha percetakan dan sablon. Seperti usaha produksi lainnya, kegiatan tersebut membutuhkan listrik untuk mengoperasikan peralatan. Ketika pasokan terjaga, pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal dan pesanan pelanggan bisa ditangani dengan lebih baik.

“Dalam usaha percetakan dan sablon, listrik menjadi kebutuhan utama untuk menjalankan peralatan produksi. Ketika pasokan listrik terjaga, pekerjaan bisa diselesaikan sesuai jadwal dan pesanan pelanggan dapat ditangani dengan lebih baik. Bagi usaha kecil, kelancaran seperti ini sangat membantu menjaga kepercayaan pelanggan,” tuturnya.

Kebutuhan Andi berbeda dengan kebutuhan Nur. Jika Andi mengandalkan listrik untuk menjalankan mesin produksi, Nur membutuhkannya agar kulkas dan lemari pembeku tetap bekerja. Namun, keduanya menghadapi hal yang sama, kelancaran usaha ikut dipengaruhi oleh ketersediaan listrik.

Bagi usaha kecil, gangguan pasokan bukan hanya persoalan lampu yang padam. Waktu produksi dapat tertunda, pesanan berisiko terlambat, dan bahan baku yang membutuhkan penyimpanan dingin dapat terancam rusak. Karena itu, keandalan listrik memiliki arti langsung bagi keberlangsungan kegiatan ekonomi masyarakat.

Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kolaka, Suyanti Suaib, mengatakan pihaknya sejauh ini belum menerima keluhan pelaku UMKM mengenai gangguan pasokan listrik yang dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas industri pertambangan. Ia menilai perkembangan aktivitas industri turut menggerakkan perputaran ekonomi masyarakat, meskipun belum dapat memastikan besarnya pengaruh terhadap omzet atau penjualan UMKM.

Menurut Suyanti, pemadaman untuk keperluan pemeliharaan terkadang didahului pemberitahuan sehingga masyarakat dan pelaku usaha dapat mengantisipasi kegiatan yang berpotensi terdampak. Pada saat yang sama, pemerintah daerah menjalankan berbagai program pendampingan agar pelaku UMKM memiliki kemampuan lebih baik dalam mengembangkan usahanya.

Aktivitas usaha percetakan dan sablon di Kabupaten Kolaka yang mengandalkan pasokan listrik untuk mendukung proses produksi

Pendampingan tersebut meliputi fasilitasi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, pendaftaran merek atau kekayaan intelektual, serta penguatan pemasaran digital. Pelaku usaha juga didorong memanfaatkan media sosial dan platform perdagangan elektronik, mencantumkan lokasi usaha di Google Maps, menggunakan QRIS, serta mengikuti pameran untuk memperkenalkan produk.

Namun, ketersediaan listrik dan pendampingan usaha belum dengan sendirinya menyelesaikan seluruh persoalan UMKM. Akses permodalan dan arus kas masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha. Suyanti menyinggung situasi ketika usaha kecil harus menunggu pembayaran dari perusahaan besar, sementara kebutuhan membeli bahan baku dan membiayai operasional terus berjalan.

Jeda pembayaran seperti itu dapat menekan kemampuan usaha kecil menjaga kelancaran produksi. Dengan demikian, peluang ekonomi yang tumbuh bersama perkembangan industri perlu diikuti dukungan yang membuat UMKM mampu bertahan dan mengambil bagian dalam kegiatan ekonomi daerah.

Di Pomalaa, Nur Halijah mengandalkan listrik agar bahan makanan tetap tersimpan dengan baik. Sementara Andi Rudi membutuhkannya untuk menyelesaikan pesanan percetakan. Sementara di kawasan industri, pasokan energi menjadi salah satu penopang kegiatan pengolahan nikel.

Ketiganya berada dalam lingkup kebutuhan yang berbeda, tetapi saling memperlihatkan arti penting listrik bagi kehidupan ekonomi Kolaka. Pertumbuhan industri meningkatkan kebutuhan energi dalam skala besar. Perkembangan permukiman menambah kebutuhan rumah tangga. Sementara itu, usaha kecil membutuhkan pasokan yang cukup andal agar dapat terus berproduksi dan melayani pelanggan.

Kerja sama penyediaan listrik bagi industri, penguatan pembangkit dan jaringan, pemantauan keandalan, serta penjajakan pemanfaatan PLTS atap merupakan bagian dari upaya menjawab kebutuhan tersebut. Namun, ukuran keberhasilan pembangunan energi tidak hanya terletak pada besarnya kapasitas yang tersedia atau investasi yang masuk. Manfaatnya juga perlu dirasakan oleh masyarakat yang menjalankan usaha dan membangun kehidupan di sekitar kawasan industri.

Dari tanah nikel Kolaka, perjalanan menuju Indonesia yang berdaya bukan semata-mata tentang seberapa besar industri tumbuh atau seberapa banyak energi disalurkan. Ada pula harapan pelaku usaha kecil agar bahan bakunya tetap terjaga, pesanan pelanggan selesai tepat waktu, dan kegiatan ekonomi dapat terus berjalan.

Pada akhirnya, listrik tidak hanya menggerakkan mesin pengolahan mineral. Energi juga menjaga kulkas tetap menyala, membantu mesin percetakan bekerja, dan membuka ruang bagi masyarakat untuk terus berusaha. Dari kebutuhan-kebutuhan itulah harapan tentang Kolaka yang tumbuh dan Indonesia yang berdaya menemukan maknanya.

Komentar