Dari Tanah Nikel Kolaka, Energi Menyalakan Harapan Indonesia Berdaya

Penandatanganan SPJBTL antara PLN UP3 Kendari dan PT Vale Indonesia Tbk, 29 Juli 2026. (Foto: PLN)

Kerja sama itu berlanjut ke tahap berikutnya. Pada 29 Juli 2026, PLN UP3 Kendari dan PT Vale menandatangani Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) dengan daya tersambung sebesar 2.500.000 volt-ampere (VA), atau setara 2,5 MVA. Perkembangan tersebut menggambarkan perubahan kebutuhan energi seiring beralihnya proyek dari tahap pembangunan menuju kegiatan produksi.

Berbagai kerja sama tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan energi untuk mendukung kegiatan industri di Kolaka. Namun, pertumbuhan kawasan produksi juga membawa konsekuensi lain. Bertambahnya aktivitas industri dan permukiman berarti semakin besar pula kebutuhan listrik yang harus dilayani.

Di luar kawasan industri, rumah-rumah, tempat usaha, dan fasilitas umum tetap membutuhkan pasokan yang andal. Listrik yang digunakan masyarakat dan industri di Kolaka merupakan bagian dari sistem kelistrikan Sulawesi yang lebih luas. Melalui jaringan interkoneksi, pasokan daerah tidak hanya berasal dari pembangkit setempat, tetapi juga mendapat dukungan dari pembangkitan dan jaringan di wilayah lain.

Keterhubungan tersebut membantu memenuhi kebutuhan listrik di Kolaka. Namun, sistem interkoneksi juga memiliki risiko. Gangguan pada jaringan transmisi di wilayah lain dapat berdampak pada pasokan di Kolaka apabila memengaruhi sistem yang saling terhubung.

Pertumbuhan industri pengolahan nikel turut meningkatkan kebutuhan energi listrik di Kolaka. Kondisi tersebut menuntut kesiapan sistem agar mampu melayani kebutuhan pelanggan, baik sektor industri maupun masyarakat. 

Team Leader Pelayanan Pelanggan dan Administrasi PT PLN (Persero) ULP Kolaka, Gilang Abi Mahatma.

Team Leader Pelayanan Pelanggan dan Administrasi PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kolaka, Gilang Abi Mahatma, mengatakan kebutuhan listrik di Kolaka saat ini masih dapat dipenuhi dalam jangka pendek, yakni sekitar dua hingga tiga tahun ke depan. Meski demikian, penambahan industri dan pelanggan tetap perlu diantisipasi melalui perencanaan.

“Untuk saat ini, kebutuhan listrik di Kolaka masih mampu dipenuhi dalam jangka pendek, sekitar dua sampai tiga tahun ke depan. Namun, tetap diperlukan perencanaan untuk mengakomodasi penambahan industri dan seluruh pelanggan ke depan,” ujar Gilang dalam wawancara di Kolaka, Kamis (29/10/2026).

Menurut Gilang, infrastruktur kelistrikan di Kolaka didukung empat gardu induk, yakni GI Kolaka dan GI Wolo serta dua gardu induk switching yang berkaitan dengan pelayanan pelanggan industri PT Ceria dan PT ANTAM.

Sistem tersebut juga ditopang sejumlah pembangkit lokal, termasuk PLTD, PLTMH Sabilambo, dan BMPP Nusantara II di Wolo. Menurut Gilang, BMPP terutama memasok kebutuhan industri Ceria, tetapi keberadaannya tetap menjadi bagian dari sistem kelistrikan yang lebih luas. Sementara itu, PLTMH Sabilambo merupakan salah satu sumber energi terbarukan.

Dukungan pembangkit lokal juga diperkuat dengan kehadiran PLTG Kolaka. Pembangkit tersebut dilaporkan mulai beroperasi secara komersial pada 17 Desember 2025 setelah relokasi PLTG Maleo Unit 3. Kapasitas terpasangnya mencapai 26,2 megawatt (MW), dengan kapasitas netto 22,7 MW.

Keberadaan pembangkit lokal menjadi salah satu penopang ketika terjadi gangguan pada jaringan interkoneksi. Gilang menjelaskan bahwa pembangkit lokal sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan listrik di Kolaka, terutama di wilayah perkotaan, apabila sistem memungkinkan untuk dioperasikan secara terpisah. Namun, kapasitasnya belum mencukupi untuk melayani seluruh pelanggan. Karena itu, pengaturan beban dan penyesuaian pasokan tetap diperlukan.

“Kalau sistem interkoneksi terputus, pembangkit lokal sebenarnya bisa menopang kebutuhan, terutama di wilayah perkotaan. Namun, kapasitasnya belum mencukupi untuk melayani seluruh pelanggan. Karena itu, perlu pengaturan beban dan penyesuaian pasokan sesuai kemampuan sistem,” jelasnya.

Komentar