
Kolaka, BuletinNews.com – Di balik mesin industri yang terus bergerak, ada kulkas yang menjaga bahan makanan tetap segar. Di tempat lain, mesin percetakan bekerja menyelesaikan pesanan pelanggan. Keduanya berada pada skala usaha yang berbeda, tetapi memiliki ketergantungan yang sama, pasokan listrik yang tersedia dan dapat diandalkan.
Bagi Nur Halijah, pelaku usaha bakso dan makanan beku di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, listrik bukan sekadar kebutuhan rumah tangga. Pasokan energi menentukan bagaimana ia menjaga bahan makanan tetap layak, menyimpan produk sebelum dijual, dan menjalankan usahanya sehari-hari. Kulkas dan lemari pembeku harus terus berfungsi agar bahan baku tidak rusak.
“Alhamdulillah kami sebagai pelaku UMKM sangat bersyukur, PLN di Kolaka ini jarang melakukan pemadaman, itupun kalau melakukan pemadaman. Usaha kami jadi lancar, tidak ada bahan baku yang rusak karena kulkas mati, apalagi kami jualan makanan beku,” ujar Nur saat ditemui pada 22 Oktober 2026.
Pengalaman Nur memperlihatkan sisi sederhana dari kebutuhan energi listrik yang tetap menyala dapat membantu usaha kecil menjaga kualitas produk dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Namun, di Kolaka, kebutuhan terhadap listrik tidak berhenti pada kulkas dan peralatan usaha rumahan.
Kabupaten yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil nikel di Sulawesi Tenggara itu tengah berkembang bersama aktivitas pengolahan mineral. Di kawasan industri, kebutuhan energi hadir dalam skala yang jauh lebih besar. Mesin produksi, fasilitas pengolahan, dan berbagai kegiatan penunjang membutuhkan pasokan listrik yang mampu mengikuti pertumbuhan industri.
Perkembangan industri pengolahan mineral membawa konsekuensi terhadap kebutuhan energi. Pasokan listrik tidak cukup hanya tersedia di pembangkit jaringan transmisi, gardu induk, dan distribusi juga harus mampu menyalurkannya hingga ke lokasi pelanggan.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PT PLN (Persero) menjalin kerja sama penyediaan tenaga listrik dengan sejumlah perusahaan yang mengembangkan kegiatan pengolahan mineral di Kolaka.
Salah satunya PT Ceria Nugraha Indotama. Pada 14 Juli 2024, PLN dan perusahaan tersebut menyepakati pembangunan jaringan transmisi 150 kilovolt (kV) yang menghubungkan Gardu Induk Kolaka dengan gardu induk milik perusahaan. Pasokan awal yang direncanakan mencapai 118 megavolt-ampere (MVA), dari total kapasitas yang direncanakan sebesar 414 MVA. Jaringan itu membentang sekitar 5,8 kilometer.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari persiapan infrastruktur untuk mendukung kebutuhan energi kawasan industri. Artinya, pertumbuhan kegiatan pengolahan nikel juga menuntut kesiapan jalur penyaluran agar pasokan dari sistem kelistrikan dapat menjangkau fasilitas produksi.
Dukungan pasokan listrik juga diberikan kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), yang mengoperasikan fasilitas pengolahan feronikel di Pomalaa. Pada 29 Oktober 2024, PLN memberikan dukungan pasokan listrik sebesar 150 MVA. Kerja sama itu turut mencakup pemanfaatan 112.940 unit Renewable Energy Certificate (REC), yaitu sertifikat yang merepresentasikan atribut energi terbarukan melalui mekanisme yang berlaku.
“Industri smelter membutuhkan energi besar, dan PLN siap memasoknya dengan listrik andal, berkualitas, dan harga kompetitif. Kami juga berkomitmen memberikan produk dan layanan inovatif serta ramah lingkungan,” ungkap Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PLN saat itu.
Kebutuhan energi juga mengikuti perkembangan pembangunan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa yang dikembangkan PT Vale Indonesia Tbk. Pada 7 Juni 2023, PT Vale dan PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kendari menandatangani nota kesepahaman penyediaan listrik untuk tahap konstruksi proyek dengan kebutuhan daya yang disebut mencapai 1.000 kilovolt-ampere (kVA), setara dengan 1 MVA.








Komentar