Tekuni Pertanian Organik, Petani Kakao di Kolaka Binaan PT Vale Tingkatkan Hasil Panen

Kolaka, BuletinNews.com – Di tengah menurunnya produktivitas tanaman kakao yang membuat sebagian petani mulai enggan merawat kebunnya, Darman Rani, petani binaan PT Vale Indonesia Tbk IGP Pomalaa, membuktikan bahwa inovasi pertanian organik mampu mengembalikan kejayaan tanaman cokelat.

Berlokasi di Kelurahan Ngapa, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Darman mengelola lahan kakao seluas 0,8 hektare atau sekitar 80 are dengan menerapkan sistem budidaya organik.

Menurut Darman, sebelum menerapkan metode organik, kondisi tanaman cokelat di kebunnya mengalami penurunan produksi. Daun tanaman terlihat tidak sehat, buah menghitam, hingga serangan jamur yang membuat hasil panen terus menurun.

“Di sini petani sudah mulai malas memelihara cokelat karena sudah tidak produktif. Tanaman masih muda tapi buahnya hitam dan batangnya terlihat seperti sudah tua. Setelah saya aplikasikan MOL buah dan maja, daunnya kembali mengkilap, buahnya membaik, jamur hilang dan bisa panen lagi,” ujar Darman, Jum’at (12/6/2026).

Darman mengaku ide penerapan pertanian organik bermula setelah dirinya mengikuti pelatihan petani padi. Dari pelatihan tersebut, ia mencoba menerapkan konsep serupa pada tanaman kakao miliknya.

“Awalnya dari pelatihan petani padi. Setelah selesai pelatihan, saya coba terapkan di cokelat. Karena selama ini menggunakan pupuk konvensional, lama-kelamaan hasil panen semakin menurun,” katanya.

Setelah beralih menggunakan pupuk organik, Darman merasakan perubahan pada kondisi tanaman dan efisiensi biaya perawatan. Hasil produksi pun meningkat secara bertahap.

“Tenaga tidak terlalu terkuras dan biaya juga lebih ringan. Hasil dari organik meningkat, bisa mencapai 30 sampai 40 kilogram per minggu. Kalau musim panen, bisa sampai 170 kilogram,” ungkapnya.

Hasil buah kakao setelah menerapkan sistem pertanian menggunakan pupuk organik


Pendamping Lapangan PT Vale, Gagan Prayoga, menjelaskan konsep pertanian organik tidak hanya berfokus memberikan nutrisi langsung kepada tanaman, tetapi memperbaiki kondisi tanah sebagai sumber utama pertumbuhan.

“Kalau pertanian konvensional, petani memberikan nutrisi langsung ke tanaman. Sedangkan sistem ini kita memberikan nutrisi ke tanah terlebih dahulu. Tanah akan mengolah menjadi humus, lalu humus menjadi sumber nutrisi yang diserap tanaman,” jelas Gagan.

Menurutnya, tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman yang lebih kuat. Melalui pendampingan yang dilakukan, petani juga didorong menjadi lebih mandiri dengan mampu membuat pupuk sendiri, seperti kompos dan pupuk cair berbahan Mikroorganisme Lokal (MOL).

“Kalau tanah dimuliakan dan pH-nya diperbaiki, tanaman juga akan sehat. Petani sekarang bisa membuat pupuk sendiri dan manfaatnya sudah dirasakan,” ujarnya.

Ia berharap keberhasilan Darman dapat menjadi contoh bagi petani kakao lainnya di Kabupaten Kolaka untuk mulai menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan.

“Pertanian organik bukan hanya menyuburkan tanaman, tetapi juga membangun kembali kualitas tanah. Jadi manfaatnya jangka panjang,” harapnya.

Kisah Darman menunjukkan bahwa inovasi dan ketekunan dapat menjadi jalan keluar bagi petani dalam menghadapi tantangan produktivitas. Selain menghasilkan kakao berkualitas, pertanian organik juga membuka peluang peningkatan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga: