
Kolaka, BuletinNews.com – Sejumlah Dosen dan Mahasiswa Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) menggelar edukasi pemanfaatan tanaman obat lokal dan pelatihan pengolahan tanaman obat yang aman dan benar bagi kader Posyandu Kelurahan Sabilambo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Sabilambo tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Program ini mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Edukasi Potensi Tumbuhan Lokal sebagai Obat Tradisional dan Pemanfaatan Teknologi Deteksi Dini Kesehatan untuk Mendukung Kemandirian Kesehatan Keluarga”. Selain edukasi tanaman obat lokal, program tersebut juga mencakup pembuatan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) serta pelatihan penggunaan teknologi kesehatan untuk deteksi dini kesehatan dasar.
Ketua Tim PKM USN Kolaka, Megawati, S.Si., M.Si., mengatakan kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan literasi masyarakat, khususnya kader Posyandu, mengenai pemanfaatan tanaman obat berbasis data ilmiah serta teknik pengolahannya yang aman.
Tim pelaksana terdiri atas dosen lintas program studi, yakni Carla Wulandari Sabandar, S.Si., M.Sc. dari Program Studi Farmasi dan Yuniarti Ekasaputri Burhanuddin, S.Keb., M.Keb. dari Program Studi D3 Keperawatan. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Program Studi Kimia, Melynda Eka Widya Ningsih dan Nurfadilla Arsyla.
Sebanyak 10 kader Posyandu Sabilambo mengikuti kegiatan tersebut. Hadir pula Lurah Sabilambo, Sumanda, SH, serta Kepala Pusat Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USN Kolaka, Dr. Ir. Hj. Ramlah S., M.Si., yang mewakili Ketua LPPM USN Kolaka untuk membuka kegiatan.
Materi disampaikan oleh Apt. Harni Sartika Kamaruddin, S.Si., M.Si., Apt. Alfiranty Yunita, S.Farm., M.Farm., dan Ari Dwiyanti, S.Farm., M.Farm., bersama tim mahasiswa Farmasi.
Dalam sesi penyuluhan, peserta diperkenalkan berbagai tanaman obat khas Sulawesi Tenggara yang memiliki potensi sebagai bahan obat tradisional. Tanaman tersebut antara lain patikala (Etlingera elatior), songi (Dillenia serrata), rumput ayam (Peperomia pellucida), nilam (Pogostemon cablin), olae (Etlingera calophrys), kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale), dan temu mangga (Curcuma amada).

Menurut pemateri, tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa aktif yang berpotensi memiliki aktivitas biologis seperti antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pendukung kesehatan keluarga.
Selain penyuluhan, peserta mengikuti sesi diskusi interaktif mengenai dosis penggunaan, teknik pengolahan, penyimpanan bahan herbal, hingga peluang pengembangan tanaman obat sebagai sumber ekonomi masyarakat.
Pada sesi praktik, kader Posyandu diajarkan membuat dua jenis jamu tradisional, yakni Jamu Manjaku dan Jamu Sinom. Peserta mempraktikkan langsung tahapan pemilihan bahan baku, pencucian, perajangan, perebusan, proses ekstraksi sederhana, hingga pengemasan produk secara higienis.
Jamu Manjaku dibuat dari manjakani, asam jawa, kunyit, daun sirih, dan gula aren. Sementara Jamu Sinom diracik dari daun asam muda, asam jawa, gula aren, kencur, temu mangga, kapulaga, kayu manis, dan jahe.
Salah seorang peserta mengaku kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi kader Posyandu. Selain menambah pengetahuan mengenai jenis dan manfaat tanaman obat, peserta juga memperoleh keterampilan mengolah tanaman herbal menjadi jamu secara mandiri.
“Kami jadi mengetahui berbagai jenis tanaman obat, manfaatnya bagi kesehatan, serta cara mengolahnya menjadi jamu dan obat herbal yang aman digunakan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharap tidak hanya memahami manfaat tanaman obat secara teori, tetapi juga mampu mengolah dan memanfaatkannya secara mandiri sebagai alternatif pendukung kesehatan keluarga.




