
Sulut, BuletinNews.com – Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah barat laut Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Minggu (12/7/2026) dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa terjadi pada pukul 00.49.30 WIB dengan parameter magnitudo M5,2. Episenter gempa berada di laut, sekitar 136 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, pada koordinat 4,83 Lintang Utara dan 125,36 Bujur Timur, dengan kedalaman 12 kilometer.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, S.T., M.Sc., menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
BMKG menyatakan hasil pemodelan menunjukkan gempa tidak berpotensi tsunami, sehingga masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan peta guncangan (shakemap), gempa dirasakan dengan intensitas IV MMI di wilayah Marore, Kepulauan Sangihe. Pada skala tersebut, guncangan dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, sebagian orang di luar rumah, serta dapat menyebabkan benda pecah dan pintu maupun jendela berderik.
Sementara itu, guncangan dengan intensitas III MMI dirasakan di Kecamatan Kendahe dan Tabukan, Kepulauan Sangihe. Pada tingkat ini, getaran terasa nyata di dalam rumah dan menyerupai getaran saat truk besar melintas.
Hingga pukul 01.05 WIB, BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan (aftershock).
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa sebelum dipastikan aman untuk digunakan kembali. Informasi resmi terkait perkembangan aktivitas gempa diminta hanya mengacu pada kanal resmi BMKG.








