
Morowali, BuletinNews.com – Di tengah tekanan harga komoditas global, tantangan rantai pasok, serta tuntutan standar keberlanjutan yang semakin ketat, PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali mencatat capaian strategis pada awal 2026. Hingga Februari 2026, perusahaan berhasil membukukan produksi dan penjualan sebesar 2,2 juta ton ore, menegaskan konsistensi kinerja operasional di tengah dinamika industri pertambangan nikel.
PT Vale yang merupakan bagian dari holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, menunjukkan bahwa disiplin eksekusi dan perencanaan terintegrasi menjadi kunci menjaga stabilitas produksi. Capaian 2,2 juta ton tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan refleksi dari soliditas kolaborasi lintas fungsi di seluruh lini operasional, mulai dari perencanaan tambang, pengelolaan alat berat, hingga manajemen pengiriman.
Awal 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi industri nikel global. Fluktuasi harga, ketidakpastian logistik, hingga meningkatnya standar kepatuhan lingkungan menuntut perusahaan tambang untuk beradaptasi cepat. Namun di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, operasional IGP tetap berjalan sesuai target produksi dan penjualan yang telah ditetapkan.

Direktur dan Chief Project Officer PT Vale Indonesia, Muhammad Asril, menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen perusahaan.
“Capaian 2,2 juta ton penjualan ore pada awal tahun ini adalah buah dari kolaborasi dan komitmen bersama. Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan, mitra kerja, kontraktor, pemerintah, serta seluruh pemangku kepentingan yang mendukung kelancaran operasional di tengah berbagai tantangan,” ujar Asril.
Menurutnya, capaian tersebut juga mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menerapkan prinsip pertambangan yang bertanggung jawab (responsible mining), dengan menempatkan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat sebagai prioritas utama.
Head of Mine Operation Bahodopi PT Vale Indonesia, Wafir, menjelaskan bahwa stabilitas produksi pada awal tahun ini tidak terlepas dari penguatan sistem operasional dan perencanaan tambang yang terintegrasi.
“Keberhasilan ini merupakan hasil penguatan sistem operasional, perencanaan tambang yang terintegrasi, serta koordinasi solid antara tim proyek dan operasional. Kami terus meningkatkan efisiensi, pengendalian risiko, serta implementasi standar keselamatan dan lingkungan yang ketat,” jelasnya.
Ia menambahkan, dinamika industri nikel yang sangat kompetitif justru menjadi momentum untuk memperkuat ketangguhan organisasi. Optimalisasi produktivitas alat, efisiensi rantai pasok, serta penguatan manajemen risiko menjadi strategi utama dalam menjaga keberlanjutan proyek jangka panjang.

Selain fokus pada kinerja produksi, PT Vale IGP Morowali juga memperkuat aspek keberlanjutan di wilayah operasional. Hingga akhir Januari 2026, perusahaan telah melaksanakan hydroseeding seluas 16 hektare, pemasangan pengendalian erosi di Mine Haul Road, serta pembangunan fasilitas nursery berkapasitas awal 400 ribu bibit per tahun guna mendukung reklamasi pascatambang.
Program pemberdayaan masyarakat juga terus dijalankan melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguatan layanan kesehatan, pengembangan ekonomi lokal, pembangunan infrastruktur dasar, hingga peningkatan kapasitas masyarakat sekitar tambang. Penyerapan tenaga kerja lokal dan kemitraan usaha menjadi bagian dari strategi mendorong dampak ekonomi berkelanjutan di Morowali.










Komentar