
Surabaya, BuletinNews.com – Potensi kakao dan kelapa di Kabupaten Kolaka Utara mulai menarik perhatian pelaku industri internasional. Peluang kerja sama pengembangan industri hilirisasi antara Kolaka Utara dan Jerman menjadi salah satu pembahasan utama dalam Kolaka Utara Industry, Trade & Investment Forum 2026 yang digelar di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama Pekan lalu.
Pembahasan tersebut disampaikan Managing Director Wisma Jerman, Mike Neuber, melalui pemaparan bertajuk Industrial Excellence in North Kolaka: Cooperation Potential between North Kolaka and Germany for Value-Added Agriculture.
Dalam forum tersebut, Mike menilai Kolaka Utara memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai kawasan industri agribisnis berbasis hilirisasi, khususnya pada sektor kakao dan kelapa yang memiliki permintaan tinggi di pasar Eropa.
“Kolaka Utara memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar Eropa,” ujar Mike Neuber.
Menurut dia, Jerman sebagai salah satu negara pengimpor produk pertanian terbesar di dunia membutuhkan pasokan bahan baku berkualitas dan berkelanjutan untuk kebutuhan industri pangan maupun manufaktur.
Karena itu, pola kerja sama ke depan dinilai tidak lagi sebatas perdagangan komoditas mentah, tetapi diarahkan pada pembangunan industri pengolahan di daerah dengan dukungan teknologi modern asal Jerman.
Mike menjelaskan, teknologi pengolahan pangan asal Jerman saat ini menguasai lebih dari 25 persen pasar global. Teknologi tersebut termasuk sistem precision farming berbasis Internet of Things (IoT) dan GPS yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi pertanian.
Penerapan teknologi modern itu disebut dapat menekan kehilangan hasil pascapanen hingga 20 sampai 30 persen, sekaligus meningkatkan kualitas produk ekspor dan efisiensi biaya produksi.
Dalam pemaparannya, Mike juga menyoroti luas perkebunan kakao di Kolaka Utara yang mencapai sekitar 75 ribu hektare. Namun, baru sekitar 25 ribu hektare yang dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, hilirisasi kakao menjadi peluang strategis karena nilai ekonomi produk akan meningkat apabila diolah menjadi produk turunan seperti cocoa liquor maupun premium cocoa butter.
“Pengolahan kakao menjadi cocoa liquor atau premium cocoa butter dapat meningkatkan nilai produk secara signifikan sekaligus memperkuat industri lokal,” katanya.
Selain kakao, komoditas kelapa juga dinilai memiliki prospek pasar yang besar di Eropa. Produk turunan seperti Virgin Coconut Oil (VCO), karbon aktif dari tempurung kelapa, hingga air kelapa premium disebut memiliki permintaan yang terus meningkat.
Mike menjelaskan, salah satu konsep yang ditawarkan ialah pembangunan pabrik modular berskala fleksibel agar koperasi maupun pelaku usaha lokal dapat memproduksi cocoa liquor dan VCO tanpa memerlukan investasi industri besar.
Pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi karbon aktif juga dinilai mampu menciptakan nilai tambah baru sekaligus mendukung industri ramah lingkungan.
Selain aspek produksi, Mike menekankan pentingnya penerapan sistem digital traceability berbasis blockchain untuk memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang kini menjadi syarat utama produk pertanian masuk ke pasar Eropa.
“Pembeli di Eropa kini semakin menuntut produk pertanian yang berkelanjutan dan memiliki sistem pelacakan yang jelas,” ujarnya.
Ia menambahkan, peluang pasar di Jerman cukup besar karena negara tersebut memiliki tingkat konsumsi cokelat sekitar 9 kilogram per kapita per tahun dan menjadi pasar produk organik terbesar kedua di dunia.
Jika produk kakao dan kelapa dari Kolaka Utara mampu memperoleh sertifikasi organik, harga jual produk disebut dapat meningkat hingga 30 persen serta membuka peluang kontrak jangka panjang dengan jaringan ritel premium di Eropa.
Dalam forum itu, sejumlah perusahaan dan institusi asal Jerman juga disebut berpotensi menjadi mitra strategis pengembangan industri di Kolaka Utara, di antaranya Buhler Group dan GEA untuk teknologi mesin pengolahan, Norevo untuk distribusi bahan baku industri, serta Fraunhofer Institute dalam pengembangan riset dan inovasi.











Komentar