
Selain DME, hilirisasi batu bara juga dikembangkan ke sektor industri masa depan seperti artificial graphite untuk baterai kendaraan listrik serta kalium humat untuk sektor pertanian. Diversifikasi ini memperluas peran batu bara dari sekadar sumber energi menjadi bahan baku industri strategis.
Berdasarkan data fact sheet industri, konsumsi batu bara domestik mencapai sekitar 254 juta ton pada 2025, dengan dominasi sektor kelistrikan dan industri. Namun, sekitar 65 persen produksi nasional masih dialokasikan untuk ekspor, sehingga penguatan hilirisasi menjadi penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri.
Di sisi lain, penguatan logistik juga dilakukan melalui pembangunan infrastruktur seperti jalur angkutan batu bara Tanjung Enim Kramasan yang mampu meningkatkan kapasitas distribusi hingga 20 juta ton per tahun. Proyek ini diharapkan mampu menekan biaya logistik sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong percepatan hilirisasi dan optimalisasi seluruh potensi energi domestik, termasuk energi baru dan terbarukan. Hal tersebut disampaikan dihadapan para awak media usai melakukan rapat dengan sejumlah menteri di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, pada Rabu, (25/3/2026).
Menurutnya, kebijakan energi ke depan diarahkan untuk menciptakan sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, guna memastikan ketersediaan energi yang stabil, terjangkau, dan berkelanjutan.
Strategi hilirisasi dan penguatan logistik, pemerintah optimistis batu bara tetap memainkan peran penting sebagai energi transisi sekaligus pilar industrialisasi nasional.
Penulis: Andi Hendra











Komentar