
Kolaka, BuletinNews.com – Pagi baru saja menyentuh wilayah Pomalaa ketika debu merah mulai beterbangan dari jalur hauling tambang. Dari arah perbukitan, suara alat berat terdengar bersahut-sahutan memecah sunyi di ujung selatan Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Kendaraan proyek melintas hampir tanpa jeda pada Kamis pagi, 14 Mei 2026. Sejumlah pekerja berdatangan mengenakan rompi dan helm keselamatan sejak matahari belum sepenuhnya naik. Sebagian singgah di warung pinggir jalan untuk sarapan sebelum masuk ke kawasan proyek.
Di sisi lain jalan, laut Pomalaa masih tampak tenang. Cahaya pagi memantul tipis di permukaan air yang membentang hingga ke ujung cakrawala.
Muhammad Alim duduk di teras rumahnya sambil mengibas debu merah yang menempel di kursi plastik. Rumahnya berada tak jauh dari jalur kendaraan tambang. Hampir setiap hari ia menyaksikan truk-truk melintas dari pagi hingga malam.
“Kalau musim panas, banyak debu karena kendaraan tambang dan kendaraan umum banyak yang melintas depan rumah,” katanya sambil tersenyum kecil.
Bagi masyarakat Pomalaa, tanah merah bukan sekadar warna yang melekat di jalan dan pakaian mereka setiap hari. Tanah itu kini menjadi simbol perubahan ekonomi yang perlahan mengubah wajah wilayah tersebut.
“Dulu kalau baju sudah kena tanah merah, rasanya kesal sekali. Tapi sekarang, kami melihatnya sebagai tanda kalau daerah kami sedang berkembang,” ujar Alim.
Menurut Alim, warna kemerahan yang menyelimuti pemukiman warga merupakan pemandangan yang tak terpisahkan dari denyut nadi ekonomi yang semakin maju.
“Memang setiap hari kami berteman dengan debu, tapi di balik itu, lapangan kerja terbuka dan kampung kami jadi ramai,” tuturnya.
Ia masih mengingat suasana daerah itu beberapa tahun lalu ketika jalanan lebih sering sepi. Tidak banyak kendaraan berat melintas. Malam hari terasa lengang. Bahkan suara ombak lebih dominan dibanding suara mesin.
Sebagian besar anak muda, katanya, memilih merantau setelah tamat sekolah. Ada yang pergi ke Kendari, Makassar, Morowali, bahkan Kalimantan untuk mencari pekerjaan.
“Kalau dulu habis tamat sekolah biasanya orang keluar cari kerja. Namun sekarang sudah mulai ada harapan kerja di sini,” ujarnya.
Apa yang disaksikan Alim hari ini berbeda jauh dibanding suasana Pomalaa beberapa tahun lalu. Meski wilayah itu telah lama dikenal sebagai daerah penghasil nikel, geliat ekonomi belum benar-benar terasa di kehidupan warga.
Selama puluhan tahun, Pomalaa dikenal sebagai salah satu penghasil nikel terbesar di Sulawesi Tenggara. Bijih nikel dari wilayah tersebut sebagian besar dikirim keluar negeri sebagai bahan mentah, sementara nilai tambah terbesar dinikmati negara lain.
Akan tetapi bagi sebagian warga, geliat tambang kala itu belum sepenuhnya mengubah kehidupan masyarakat. Jalanan tetap lengang pada malam hari, sementara banyak anak muda memilih merantau mencari pekerjaan.
Pemerintah kemudian mulai mendorong hilirisasi sektor tambang agar sumber daya alam tidak lagi berhenti sebagai komoditas ekspor, melainkan diolah di dalam negeri menjadi produk bernilai tambah.
Di tengah peralihan dunia menuju energi rendah emisi, Indonesia melihat peluang besar dari cadangan nikelnya yang melimpah. Dari situlah Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa mulai dibangun sebagai bagian dari pengembangan industri pengolahan nikel untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Proyek yang dikembangkan PT Vale Indonesia Tbk bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. itu menjadi salah satu proyek hilirisasi terbesar di sektor nikel Indonesia dengan nilai investasi mencapai sekitar US$4,5 miliar atau setara Rp67,5 triliun.
Di kawasan itu, bijih nikel nantinya tidak lagi hanya dikirim keluar negeri sebagai bahan mentah. Melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), mineral dari perbukitan Pomalaa akan diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan utama dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.
Dari kawasan itulah, Indonesia berharap tidak lagi sekadar menjadi pengekspor bijih mentah. Setiap tahun, proyek tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 120 ribu ton nikel dan 15 ribu ton kobalt untuk rantai industri baterai kendaraan listrik dunia.
Di Pomalaa, perubahan mulai terasa bahkan sebelum kawasan industri itu sepenuhnya beroperasi. Jalan-jalan yang dulu relatif lengang kini ramai dilalui kendaraan proyek. Rumah-rumah warga mulai disewakan kepada pekerja. Warung makan tumbuh di sepanjang jalan utama menuju kawasan proyek.








