Dari Tanah Merah Pomalaa, Jalan Indonesia Menuju Industri Hijau Dunia

Fasilitas persemaian modern atau nursery, sebagai bagian dari program rehabilitasi lahan dan konservasi lingkungan, Kamis (14/5/2026).

Di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan utama Pomalaa, Marni sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Uap panas mengepul dari dapurnya. Beberapa pekerja proyek duduk berdempetan sambil menikmati sarapan sebelum masuk kerja.

“Sekarang lebih ramai dibanding dulu, banyak pekerja datang makan di sini,” katanya sambil menuangkan kopi panas ke dalam gelas.

Dulu, katanya, dagangan kadang habis, kadang tidak. Kini hampir setiap hari warungnya dipenuhi pelanggan.

“Banyak orang datang dari luar sekarang,” ujarnya.

Sesekali ia harus meninggikan suara saat truk proyek melintas di depan warungnya. Debu merah kembali masuk bersama angin jalanan. Ia lalu mengambil kain lap untuk membersihkan meja yang baru saja dipakai pelanggan.

“Kalau siang begini memang cepat kotor lagi,” katanya sambil tertawa kecil.

Tetapi seperti banyak daerah tambang lainnya, perubahan selalu datang bersama kekhawatiran.

Bagi masyarakat pesisir Kolaka, laut bukan sekadar pemandangan di depan rumah. Laut adalah sumber hidup yang diwariskan turun-temurun.

Saat sore mulai turun, sejumlah nelayan terlihat menyiapkan perahu kayu mereka di tepi pantai. Salah satunya Aryadi, nelayan yang sejak kecil hidup dari laut Pomalaa.

Ia mengaku pertumbuhan ekonomi memang mulai maju sejak proyek industri berkembang di daerah itu. Namun di balik harapan tersebut, ada kecemasan yang ikut tumbuh.

“Yang penting laut tetap dijaga, tidak tercemar oleh aktivitas tambang, karena hidup kami dari situ,” katanya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di Pomalaa, ia seperti mewakili suara banyak orang.

Aryadi menatap ke arah perairan yang mulai berubah warna diterpa cahaya senja.

Di satu sisi, masyarakat berharap industri membawa pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain, mereka juga ingin ruang hidup tetap aman untuk generasi berikutnya.

Kolam penampungan air sementara (sediment pond) untuk mengurangi sedimentasi dan mencegah erosi di sekitar area proyek akibat pembukaan lahan, Kamis (14/5/2026).

PT Vale mencoba menjawab kekhawatiran tersebut melalui pendekatan keberlanjutan. Di kawasan proyek, perusahaan membangun sejumlah fasilitas pengelolaan lingkungan, mulai dari pengolahan limbah terpadu, kolam sedimentasi, hingga sistem pemantauan kualitas air limbah berbasis real-time atau SPARING.

Kolam sedimentasi dibangun untuk mengurangi erosi akibat pembukaan lahan sekaligus menjaga kualitas air sebelum mengalir menuju sungai.

Di kawasan proyek, sebuah nursery modern turut dibangun untuk mendukung reklamasi lahan pascatambang. Ribuan jenis bibit tanaman dikembangkan, termasuk tanaman endemik lokal. Fasilitas tersebut dirancang untuk rehabilitasi lahan sekaligus menjadi ruang edukasi lingkungan bagi masyarakat dan pelajar.

Perubahan tidak hanya terlihat dari aktivitas proyek. Di sejumlah wilayah, program pemberdayaan masyarakat mulai dijalankan, mulai dari pelatihan tenaga kerja lokal hingga penyediaan akses air bersih melalui pembangunan sumur bor.

Di tengah ekspansi industri nikel, perusahaan juga berupaya menempatkan isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan kawasan industri.

Aktivitas alat berat pembangunan industri hilirisasi nikel IGP Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Kamis (14/5/2026).

Menjelang sore, langit Pomalaa perlahan berubah jingga. Dari kejauhan, suara mesin proyek masih terdengar bersahutan di balik perbukitan nikel yang mulai diselimuti cahaya senja.

Pomalaa hari ini bukan lagi sekadar kawasan tambang di pesisir Sulawesi. Kawasan itu perlahan berubah menjadi simbol tentang bagaimana Indonesia berusaha mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi global.

Dari tanah merah Pomalaa, Indonesia sedang membangun jalan menuju industri hijau dunia, ketika kekayaan alam tak lagi berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi nilai tambah di negeri sendiri.

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *