
Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, menjelaskan bahwa selain menghasilkan panen, program ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas petani.
“Melalui demplot ini, kami ingin memastikan petani mendapatkan pendampingan intensif serta transfer teknologi pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Hasil panen perdana tersebut pun cukup menggembirakan. Pada lahan organik seluas 10 are, varietas Trisakti mampu menghasilkan sekitar 6,9 ton gabah. Sementara di lahan konvensional seluas 26 are, total panen mencapai sekitar 15 ton dari berbagai varietas yang diuji.
Angka-angka itu bukan hanya statistik hasil panen. Bagi petani, itu adalah bukti bahwa inovasi pertanian dapat benar-benar meningkatkan produktivitas.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka, Akbar, yang hadir mewakili Bupati Kolaka, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan PT Vale dalam penguatan sektor pertanian daerah.
Menurutnya, kolaborasi seperti ini sangat penting dalam menjawab tantangan ketahanan pangan.
“Sinergi antara pemerintah dan perusahaan sangat penting untuk mendukung program ketahanan pangan nasional,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian mulai dari perubahan iklim hingga keterbatasan teknologi, model demplot seperti yang dikembangkan di Desa Puubunga menjadi secercah harapan. Ia menunjukkan bahwa pertanian masa depan tidak lagi hanya mengandalkan cara-cara lama, tetapi juga riset, inovasi, dan kolaborasi.
Ke depan, model demplot padi berkelanjutan ini dapat direplikasi di berbagai wilayah lain. Jika berhasil diperluas, bukan tidak mungkin Deaa Puubunga akan dikenang sebagai salah satu titik awal lahirnya praktik pertanian berkelanjutan yang lebih modern di Sulawesi Tenggara.
Di sawah yang sama, para petani kembali memanen padi dengan sabit di tangan. Namun kali ini, mereka tidak hanya memetik bulir padi mereka juga memanen harapan.








Komentar