Gubernur Ali Mazi Buka Rakorda FKUB Sulawesi Tenggara

Kendari, BuletinNews.com – Gubernur Sulawesi Tenggara, H Ali Mazi membuka secara resmi Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa (20/09/2022), bertempat di Aula Hotel Azizah Kendari. 

Hadir dalam kesempatan tersebut Kapus Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kemenag, H Wawan Djunaedi, Sekda Prov Sultra, Asrun Lio, Kakanwil Kemenag Sultra, H Zainal Mustamin, Kakanwil Hukum dan HAM, Kepala Pengadilan Tinggi Agama Kendari, Forkopimda, Ketua FKUB Prov.Sultra bersama pengurus, para ketua FKUB Kab dan Kota, Lembaga Keagamaan, Mahasiswa, para ketua dan pengurus Osis, serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat lintas agama. 

Gubernur Sulawesi Tenggara, H Ali Mazi dalam sambutannya menjelaskan bahwa kemajemukan agama dan keyakinan yang ada di negara Indonesia pada hakikatnya merupakan aset yang sangat berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. terwujudnya umat beragama yang hidup rukun merupakan harapan seluruh masyarakat Indonesia yang plural, makanya kerukunan dalam keberagaman patut terus dijaga apalagi dunia juga menilai Indonesia sebagai modal terbaik dari konsep masyarakat rukun yang multikultural. 

Karenanya, Ali Mazi menilai bahwa keragaman perlu disyukuri, keragaman tidak diminta melainkan pemberian Tuhan yang maha kuasa, bukan untuk ditawar tapi untuk diterima. Olehnya itu Indonesia masih berdiri kokoh bersatu, terus bergerak maju mengejar negara-negara lain di dunia yang lebih dahulu maju. 

“Kita telah mendengar bahwa indeks kerukunan beragama di Sultra sudah mencapai 73,83 persen. ini tentu sangat luar biasa, dan mendekati sempurna. Forum Koordinasi Umat Beragama ini sangat luar biasa, selama berdiri di Sultra selalu bekerjasama dengan pemerintah dan hidup berdampingan bersama-sama. Agama adalah modal dan aset yang sangat berharga bagi masyarakat Sultra yang hidup dengan berbagai macam suku dan agama jadi kita harus bangga menjadi masyarakat Sulawesi Tenggara, jangan ada sekat-sekat suku di Sultra, namun siapapun yang berada di sultra, dilahirkan ataupun ditugaskan untuk bekerja disini dia adalah masyarakat Sultra,” terangnya. 

“Mari kita hidup rukun dan damai di Sultra saling membina hubungan silaturrahmi secara terus menerus, sehingga potensi yang ada di Sulawesi Tenggara ini bisa dikerjakan dan digarap bersama untuk kepentingan bangsa dan negara khususnya kepentingan masyarakat Sulawesi Tenggara,” ungkapnya. 

Lebih jauh, Gubernur menerangkan bahwa tugas penguatan kerukunan umat beragama disamping dilakukan oleh pemerintah juga dilakukan oleh para tokoh agama, karena para tokoh agama merupakan modal yang berharga bagi Sultra dan Indonesia dalam mewujudkan kerukunan umat beragama. 

“Untuk itu selaku pemerintah Prov. Sultra saya sangat mengapresiasi diadakannya kegiatan Rakorda FKUB karena merupakan bentuk komunikasi efektif yang tidak menyinggung masing-masing agama sehingga hasilnya dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan FKUB,” jelasnya. 

Menurutnya, FKUB merupakan miniatur kebhinekaan Indonesia, jadi tidak ada satupun yang ditinggalkan ataupun dipinggirkan. FKUB hendaknya menjadi trend bangsa yang mengayomi semua umat beragama dari beragam kelompok, komitmen ini harus tertanam kuat dalam kesadaran  para tokoh dan aktivis KUB disemua tingkatan. Pemerintah mendukung agar peran FKUB semakin optimal dalam menyamai nilai nilai moderasi beragama, karena moderasi beragama merupakan pilihan yang tepat dan selaras dengan jiwa pancasila ditengah adanya gelombang ekstrimisme diberbagai belahan dunia, demi terciptanya toleransi dan kerukunan baik ditingkat lokal, nasional maupun global.

H Ali Mazi menilai bahwa moderasi beragama dapat diukur dalam 4 indikator, diantaranya toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan serta pemahaman dan perilaku beragama yang akomodatif terhadap budaya lokal atau konteks indonesia yang multikultural dan multiagama. Keempat indikator tersebut menurutnya harus selalu dijaga dan dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat sebagai upaya menciptakan kerukunan berbangsa dan bernegara yang berkelanjutan. 

“Kita sadari bersama bahwa tantangan kehidupan beragama kian hari kian berat. Kehadiran media sosial dalam mewarnai kehidupan beragama dewasa ini tidak bisa diabaikan, karena tidak jarang media sosial membawa toxic atau racun seperti berita hoax yang membawa ujaran kebencian yang justru menimbulkan perpecahan. Oleh karena itu, dibutuhkan figur atau tokoh agama yang mempersatukan, merangkul, dan piawai. Sehingga umat tidak terjebak kepada pandangan yang ekstrem dan mengandalkan kekerasan,” harapnya.

“Kita semua mendukung bahwa keharmonisan antara umat beragama, dan internal umat beragama adalah tujuan utama dari kerukunan umat beragama demi tercipta masyarakat yang bebas dari ancaman kekerasan dan konflik agama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *